Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende
Mei 02, 2014Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende. Sepi. |
Sebuah rumah berada di sisi selatan Jalan Perwira, Ende. Bersih dengan bercat putih, pintu dan jendela kayu berwarna kuning gading serta jendela berpayung warna putih bergaris hijau. Atap berupa seng berwarna putih berkilau pantulan sinar mentari terik siang itu, 15/03/2014. Jalan setapak beralas kayu membelah pekarangan rumput hijau yang terawat rapi, menghubungkan pintu pagar dengan pintu rumah. Sebuah pohon besar terletak di samping yang tampak rimbun memayungi rumah.
Tak disangka, rumah mungil yang damai ini bukanlah rumah biasa. Narasi sejarah bangsa Indonesia menempatkan rumah ini sebagai tempat penting bagi perjalanan hidup Ir. Soekarno, proklamator RI. Selama empat tahun, 1934-1938 Soekarno diasingkan oleh pemerintah Belanda ke Ende, Flores. Rumah ini menjadi saksi sejarah sebagai kediaman Soekarno beserta istrinya, Inggit Garnarsih dan mertuanya, Ibu Amsih, selama diasingkan di Ende.
Kami hadir di sana tatkala rumah
yang telah ditetapkan sebagai situs sejarah sedang tutup. Hari itu memang hari
Sabtu sehingga rumah yang berada di tengah pemukiman penduduk ini tidak buka.
Hanya Senin – Jumat, situs ini buka. Kecuali jika ada permintaan khusus kepada
penjaganya.
Tapi tak mengapalah, saya pun paham bahwa kehadiran ini hanyalah
pengulangan saja dari kunjungan saya ke rumah ini setahun lalu. Waktu itu, saya
harus menunggu penjaganya, Safruddin Pua Ita, dari siang hingga selepas maghrib
agar bisa masuk ke dalam rumah. Safruddin adalah cucu dari Abu Bakar Damu
pemilik rumah pengasingan ini. Dari pandangan sekilas, tak ada yang berubah
signifikan dari rumah ini sejak setahun lalu.
Koleksi buku-buku tentang Soekarno dan tonil-tonil karangannya. |
Safruddin Pua Ita, penjaga situs sejarah ini. |
Saya masih ingat, yang mengesankan di dalam rumah tersebut adalah koleksi tonil-tonil yang dibuat oleh Soekarno. Tonil ini adalah naskah yang akan dipentaskan dalam teater pertunjukan. Total ada 13 naskah tonil gubahan Soekarno. Sebagian besar tonil ini berisi tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Untuk mementaskan karya tonil gubahannya. Soekarno membentuk kelompok tonil “Kelimoetoe” yang melibatkan masyarakat Ende.
Ada satu naskah tonil yang cukup membuat saya kagum. “Tahun 1945” begitu
judulnya. Soekarno meramalkan bahwa Indonesia akan terbebas dari penjajahan
pada tahun 1945. Bukan dari Belanda, tapi dari suatu bangsa di Asia. Dan, ramalan
itu ternyata terbukti. Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.
Hal lain yang membuat rumah tiga kamar ini menarik adalah koleksi lukisan
cat minyak karya Bung Karno. Lukisan dari tangan langsung Bung Karno menggambarkan
empat perempuan Bali sedang bersembahyang di pura. Selain itu, tongkat kayu
berkepala monyet di ujungnya yang berada di lemari kaca juga begitu menarik
bagi yang tahu maknanya. Tongkat ini menjadi simbol satire Bung Karno saat
berbicara dengan penguasa kolonial Belanda.
Kami tidak berlama-lama di Rumah Pengasingan Bung Karno ini. Kami pun lekas
bergerak ke situs lain sejarah Bung Karno di Ende, yakni taman perenungan Bung
Karno. Kedua situs ini telah menjadi satu paket bagi wisatawan yang ingin
mengenang sejarah pengasingan Soekarno di Ende. Taman Perenungan Bung Karno pun
tak jauh, hanya berjarak 200 meter dari Rumah Bung Karno.
Catatan:
- tulisan
ini merupakan rangkaian kisah perjalanan saya mengikuti Adira Faces Of
Indonesia #UbekNegeri Copa de Flores yang diselenggarakan Adira Finance dan
Bank Danamon pada tanggal 14-19 Maret 2014
- tulisan
ini juga bisa ditemui di
http://www.adirafacesofindonesia.com/article.htm/2919/Rumah-Pengasingan-Bung-Karno-di-Ende
- sebagian
foto (foto 2,3,4,5,7) merupakan foto perjalanan saya sebelumnya di Ende pada 28
Maret 2013.
Sebuah ruangan baca yang biasa digunakan Soekarno untuk membaca. Tampak foto Soekarno dengan Inggrid Gunarsih, istrinya. |
Sumur di Rumah Pengasingan Bung Karno. Bagi yang fanatik terhadap Soekarno, airnya dipercaya keramat. |
Terletak di Jalan Perwira yang sepi. Situs ini menjadi kebanggaan Kota Ende. |
Lukisan gadis Bali telanjang yang dibuat oleh Soekarno selama pengasingan di Ende. |
0 komentar